BALADA GEMPA PAK KENTONG 〰
Tengah malam yang seharusnya tenang, Pak Kentong tiba-tiba terbangun dengan mata membelalak, selimut terlempar setengah meter, dan jantung berdegup seperti alarm yang lupa dimatikan. Tempat tidurnya terasa berguncang pelan, cukup untuk membuat beliau langsung duduk tegak sambil berbisik dramatis, “Waduh… gempa!” Sebagai warga yang panik tapi tetap modern, hal pertama yang beliau lakukan tentu bukan keluar rumah, melainkan meraih ponsel dan langsung mengetik di mesin pencari: cara menghitung skala gempa. Dalam hitungan menit, Pak Kentong sudah sibuk dengan angka-angka, amplitudo gelombang, dan perhitungan logaritma, seolah-olah baru saja diangkat menjadi ahli seismologi dadakan. “Kalau amplitudonya naik sepuluh kali lipat, berarti skalanya naik satu tingkat…” gumamnya puas, sambil merasa sedikit terlalu ilmiah untuk seseorang yang baru bangun tidur.
| Bukan! Ini bukan kejadian yang sebenarnya. |
