Selasa, 10 Februari 2026

TRANSFORMASI GEOMETRI DAN MATRIKS 🙨

🙨 BATIK: ILMU, BUDAYA, DAN POLA YANG TERATUR

(dari kain, malam, sampai matematika diam-diam)

Batik bukan sekadar kain bermotif cantik, tapi hasil dari proses panjang yang melibatkan sejarah, kimia, fisika, seni, dan keteraturan pola. Secara ilmiah, batik adalah teknik pewarnaan kain dengan metode perintang warna menggunakan malam (lilin), sehingga bagian tertentu kain menolak zat warna. Jadi kalau ada yang bilang batik itu “cuma gambar di kain”, jelas itu pernyataan yang perlu dicerminkan… mungkin terhadap sumbu Y dulu.




SEJARAH SINGKAT BATIK
(tua, tapi tidak ketinggalan zaman)

Batik sudah dikenal di Nusantara sejak ratusan tahun lalu dan berkembang pesat di Jawa. Awalnya batik dibuat untuk keperluan adat dan simbol status sosial, terutama di lingkungan keraton. Seiring waktu, batik keluar dari tembok keraton, bertemu masyarakat pesisir, pedagang, dan budaya asing, lalu berubah menjadi lebih bebas, berwarna, dan ekspresif.

Pada tahun 2009, UNESCO menetapkan batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia. Sejak itu, batik resmi naik level: dari kain tradisional menjadi identitas nasional yang diakui secara global.


KOTA-KOTA PENGHASIL BATIK DI INDONESIA
(bukan cuma satu, jangan salah fokus)

Beberapa daerah penghasil batik yang terkenal antara lain:

  • Yogyakarta dan Solo: batik klasik dengan filosofi kuat dan warna cenderung kalem

  • Cirebon: terkenal dengan motif Megamendung yang khas

  • Lasem: kental dengan pengaruh Tionghoa

  • Madura: warna-warna berani dan kontras

  • Gumelem (Banjarnegara): batik pedalaman dengan motif klasik bernuansa alam dan simbol-simbol tradisional, dipengaruhi budaya Banyumasan dan lingkungan agraris

  • Pekalongan: batik pesisir yang bebas, ceria, dan sangat adaptif



BATIK PEKALONGAN: ILMIAH, DINAMIS, DAN ADAPTIF

Batik Pekalongan berkembang di wilayah pesisir, sehingga sejak awal sangat terbuka terhadap pengaruh luar: Arab, Tionghoa, Eropa, dan budaya dagang lainnya. Secara visual, batik Pekalongan dikenal dengan:

  • Warna cerah dan beragam

  • Motif flora dan fauna yang dinamis

  • Pola yang tidak kaku dan tidak terlalu terikat pakem keraton

Secara ilmiah, batik Pekalongan menarik karena kompleksitas polanya tinggi, tetapi tetap teratur. Banyak motifnya terbentuk dari:

  • pengulangan (repetisi),

  • pencerminan (refleksi),

  • pergeseran pola (translasi),

  • dan pembesaran atau pengecilan motif (dilatasi).

Tanpa disadari, pengrajin batik Pekalongan sudah “bermain” dengan konsep transformasi geometri jauh sebelum kita ribut dengan matriks di kelas.


JENIS-JENIS BATIK
(ini penting, jangan sampai ketuker)

  1. Batik tulis
    Dibuat manual menggunakan canting. Setiap garis unik, nyaris mustahil benar-benar sama. Ini versi “handmade premium”, penuh variabel manusia.

  2. Batik cap
    Menggunakan cap tembaga. Polanya lebih konsisten dan simetris. Kalau mau ngomong ilmiah, ini sudah mendekati sistem mekanis dan pengulangan terkontrol.

  3. Batik kombinasi
    Gabungan tulis dan cap. Ada sentuhan seni, ada juga efisiensi produksi.


BATIK DAN POLA: SAAT SENI KETEMU MATEMATIKA

Dalam satu kain batik Pekalongan, kita bisa menemukan:

  • motif yang digeser berulang → translasi

  • motif kiri dan kanan yang saling berkaca → refleksi

  • motif yang diputar dengan arah tertentu → rotasi

  • motif besar-kecil dengan bentuk sama → dilatasi

Artinya, batik bukan hanya seni visual, tapi juga contoh nyata pola matematis dalam kehidupan sehari-hari. Bedanya, di batik tidak ada tanda kurung, tidak ada matriks di kertas—tapi konsepnya jalan terus.


PENUTUP RINGAN

Batik Pekalongan mengajarkan bahwa keteraturan tidak selalu harus kaku, dan pola tidak harus membosankan. Di balik warna cerah dan motif yang ramai, ada struktur, pengulangan, dan transformasi yang rapi. Jadi saat nanti kita masuk ke pembahasan matriks dan transformasi geometri, anggap saja kita sedang “membaca ulang” batik—bukan di kain, tapi di bidang koordinat.

Dari batik—yang sekilas terlihat seperti urusan kain, malam, dan kesabaran tingkat dewa—sebenarnya kita sedang melihat pola yang sangat matematis. Motif yang diulang, dicerminkan, diputar, atau diperbesar itu bukan terjadi secara kebetulan, melainkan mengikuti aturan tertentu agar tetap seimbang dan enak dipandang. Di sinilah matematika mulai nimbrung dengan gaya kalem tapi pasti: transformasi geometri. Jadi, sebelum kita mengira matematika cuma hobi mengacak-acak angka, ingatlah bahwa ia diam-diam ikut menyusun keindahan batik lewat translasi, refleksi, rotasi, dan dilatasi—kali ini bukan di kain, tapi di bidang koordinat.


TRANSFORMASI GEOMETRI DAN MATRIKS 🙨

(Ketika titik-titik mulai patuh pada tabel angka)

Selama ini kita mengenal transformasi geometri sebagai “memindahkan” titik atau bangun: digeser, diputar, dicerminkan, atau diperbesar. Tapi diam-diam, di balik semua gerakan itu, ada satu alat yang bekerja sangat rapi, dingin, dan disiplin: matriks. Iya, benda kotak-kotak berisi angka yang kelihatannya galak, tapi sebenarnya cuma sedang mengatur lalu lintas titik.

Dalam dunia matematika tingkat lanjut, transformasi geometri bisa dipandang sebagai hasil perkalian matriks dengan vektor titik. Artinya, setiap titik (x, y) itu seperti penumpang, dan matriks adalah sopir bus yang menentukan ke mana titik itu akan dibawa.


TITIK SEBAGAI VEKTOR
(Kenalan dulu biar akrab)

Sebuah titik pada bidang koordinat, misalnya (x, y), bisa ditulis sebagai vektor kolom. Dengan cara ini, titik tidak lagi berdiri sendiri, tapi siap “diproses” oleh matriks.
Begitu titik sudah berubah jadi vektor, ia resmi masuk dunia matriks dan siap dikalikan.


TRANSLASI DAN MATRKS

(Kasus khusus yang agak beda)

Translasi sebenarnya sedikit “nakal”, karena tidak bisa langsung diwakili oleh matriks 2×2 saja. 
Tapi tenang, bukan berarti translasi tidak penting—dia cuma punya jalan hidup sendiri, dan ini memudahkan kita 😎.

Translasi titik (x, y) dengan T(a, b) dapat ditulis dalam bentuk matriks menjadi :


Seperti penjumlahan biasa hanya posisinya di dalam matriks


REFLEKSI DAN MATRIKS

(Cermin yang pakai rumus)

Refleksi adalah contoh transformasi yang sangat patuh pada matriks.
Saat sebuah titik dicerminkan terhadap sumbu atau garis tertentu, matriks refleksi akan langsung mengatur tanda positif dan negatif koordinatnya.

Contohnya:

  • Pencerminan terhadap sumbu X

  • Pencerminan terhadap sumbu Y

  • Pencerminan terhadap garis y = x

Semua refleksi ini bisa dinyatakan dengan perkalian matriks tertentu dengan vektor titik, dan hasilnya langsung menunjukkan bayangan titik tersebut. Tidak perlu debat, tidak perlu mikir dua kali—angka langsung bicara.

Prinsip umum:

Jika sebuah titik P(x, y) ditulis sebagai vektor kolom, maka bayangannya P’ diperoleh dari

P’ = (Matriks Refleksi) × (Vektor Titik)


  1. REFLEKSI TERHADAP SUMBU X

Matriks transformasi:


Contoh soal:

Tentukan bayangan titik A(3, 2) jika dicerminkan terhadap sumbu X.

Penyelesaian:
Vektor titik A:

Kalikan dengan matriks refleksi:


Jadi bayangan titik A adalah A’(3, −2).


  1. REFLEKSI TERHADAP SUMBU Y

Matriks transformasi:

Contoh soal:
Tentukan bayangan titik B(−4, 1) terhadap sumbu Y.

Penyelesaian:


Jadi B’(4, 1).


  1. REFLEKSI TERHADAP GARIS y = x

Matriks transformasi:



Contoh soal:
Tentukan bayangan titik C(2, −5) terhadap garis y = x.

Penyelesaian:


Jadi C’(−5, 2).

Terlihat bahwa koordinatnya bertukar tempat.


  1. REFLEKSI TERHADAP GARIS y = −x

Matriks transformasi:


Contoh soal:
Tentukan bayangan titik D(1, 4) terhadap garis y = −x.

Penyelesaian:


Jadi D’(−4, −1).


  1. REFLEKSI TERHADAP TITIK PUSAT (0, 0)

Matriks transformasi:


Contoh soal:
Tentukan bayangan titik E(−3, 6) terhadap titik pusat.

Penyelesaian:
[ -1 0 ] [ -3 ] = [ 3 ]
[ 0 -1 ] [ 6 ]     [ -6 ]

Jadi E’(3, −6).
Refleksi ini sama dengan rotasi 180° terhadap titik pusat.


  1. REFLEKSI TERHADAP TITIK SEMBARANG (a, b)

Refleksi terhadap titik (a, b) tidak langsung, tapi dilakukan dengan dua langkah:

  1. Refleksi terhadap titik pusat

  2. Translasi dengan 2(a, b)

Secara rumus koordinat:
[ -1 0 ] [ x ] + 2[ a ]
[ 0 -1 ] [ y ]      [ b ]

Contoh soal:
Tentukan bayangan titik F(5, 1) terhadap titik T(2, −1).

[ -1 0 ] [ 5 ] + 2[ 2 ]  = [-5] + [4]  = [-1]
[ 0 -1 ] [ 1 ]      [ -1 ] = [-1] + [-2]    [-3]


ROTASI DAN MATRKS

(Putar tapi tetap elegan)

Rotasi adalah transformasi favorit matriks.
Diputar 90°, 180°, atau sudut tertentu terhadap titik pusat (0,0), semuanya bisa dilakukan dengan satu matriks rotasi.

Yang menarik, matriks rotasi:

  • Tidak mengubah ukuran bangun

  • Tidak mengubah bentuk

  • Hanya mengubah arah dan posisi

Jadi kalau bangun terasa “muter tapi tetap sama”, besar kemungkinan itu kerja matriks rotasi.

  1. ROTASI 90° BERLAWANAN ARAH JARUM JAM

Matriks rotasi:
[ 0 -1 ]
[ 1 0 ]

Contoh soal:
Tentukan bayangan titik A(2, 3) jika dirotasi 90° berlawanan arah jarum jam terhadap titik pusat (0,0).

Penyelesaian:
Vektor titik A:
[ 2 ]
[ 3 ]

Kalikan dengan matriks rotasi:
[ 0 -1 ] [ 2 ] = [ -3 ]
[ 1 0 ] [ 3 ] [ 2 ]

Jadi bayangan titik A adalah A’(−3, 2).


  1. ROTASI 90° SEARAH JARUM JAM

Matriks rotasi:
[ 0 1 ]
[ -1 0 ]

Contoh soal:
Tentukan bayangan titik B(−1, 4) jika dirotasi 90° searah jarum jam.

Penyelesaian:
[ 0 1 ] [ -1 ] = [ 4 ]
[ -1 0 ] [ 4 ] [ 1 ]

Jadi B’(4, 1).


  1. ROTASI 180°

Matriks rotasi:
[ -1 0 ]
[ 0 -1 ]

Contoh soal:
Tentukan bayangan titik C(5, −2) jika dirotasi 180° terhadap titik pusat.

Penyelesaian:
[ -1 0 ] [ 5 ] = [ -5 ]
[ 0 -1 ] [ -2 ] [ 2 ]

Jadi C’(−5, 2).


  1. ROTASI DENGAN SUDUT θ (terhadap titik pusat (0,0))

Matriks rotasi:
[ cos θ -sin θ ]
[ sin θ cos θ ]


CONTOH 1
Rotasi 30° berlawanan arah jarum jam

Diketahui titik A(2, 0). Tentukan bayangannya jika dirotasi 30° terhadap titik pusat (0,0).

Nilai trigonometri:
cos 30° = √3 / 2
sin 30° = 1 / 2

Matriks rotasi:
[ √3/2 −1/2 ]
[ 1/2 √3/2 ]

Vektor titik A:
[ 2 ]
[ 0 ]

Perkalian:
[ √3/2 −1/2 ] [ 2 ] = [ √3 ]
[ 1/2 √3/2 ] [ 0 ] [ 1 ]

Jadi bayangan titik A adalah A’(√3, 1).


CONTOH 2
Rotasi 45° berlawanan arah jarum jam

Diketahui titik B(1, 1). Tentukan bayangannya jika dirotasi 45° terhadap titik pusat.

Nilai trigonometri:
cos 45° = √2 / 2
sin 45° = √2 / 2

Matriks rotasi:
[ √2/2 −√2/2 ]
[ √2/2 √2/2 ]

Vektor titik B:
[ 1 ]
[ 1 ]

Perkalian:
x’ = (√2/2)(1) − (√2/2)(1) = 0
y’ = (√2/2)(1) + (√2/2)(1) = √2

Jadi bayangan titik B adalah B’(0, √2).


DILATASI DAN MATRIKS

(Zoom in, zoom out versi matematika)

Dilatasi bisa dipahami sebagai pembesaran atau pengecilan bangun dengan faktor skala tertentu.
Dalam bahasa matriks, ini berarti semua koordinat dikalikan dengan bilangan yang sama.

Kalau faktor skalanya:

  • lebih dari 1 → bangun membesar

  • antara 0 dan 1 → bangun mengecil

  • negatif → bangun membesar sekaligus berbalik arah (nah ini mulai seru)

Matriks dilatasi bekerja seperti tombol zoom di peta digital: bentuk tetap, proporsi tetap, hanya ukurannya yang berubah.

  1. DILATASI DENGAN FAKTOR SKALA k

Matriks dilatasi:
[ k 0 ]
[ 0 k ]


Contoh soal:
Tentukan bayangan titik D(−2, 3) jika didilatasi dengan faktor skala k = 3 terhadap titik pusat (0,0).

Penyelesaian:
[ 3 0 ] [ -2 ] = [ -6 ]
[ 0 3 ] [ 3 ] [ 9 ]

Jadi bayangan titik D adalah D’(−6, 9).


  1. DILATASI DENGAN FAKTOR SKALA NEGATIF

Jika k negatif, bangun:

  • berubah ukuran

  • sekaligus berbalik arah terhadap pusat

Contoh soal:
Tentukan bayangan titik E(4, −1) jika didilatasi dengan faktor skala k = −2.

Penyelesaian:
[ -2 0 ] [ 4 ] = [ -8 ]
[ 0 -2 ] [ -1 ] [ 2 ]

Jadi E’(−8, 2).


Komposisi Matriks 

Matriks dapat terjadi dengan menggabungkan berberapa komponen sekaligus dengan urutan tertentu yang tidak boleh dibolak-balik, seperti kamu ketika memakai kaos kaki dan sepatu, kalo kamu pakai sepatu dulu baru pakai kaos kaki, kamu akan dianggap .... ah sudahlah. Begini contohnya:

CONTOH 1
(refleksi + rotasi pada satu titik, pakai matriks)

Diketahui titik A(2, 1).
Titik A dicerminkan terhadap sumbu Y, kemudian dirotasi 90° berlawanan arah jarum jam terhadap titik pusat (0,0).
Tentukan koordinat bayangan akhir titik A.

Penyelesaian:

Vektor titik A:
[ 2 ]
[ 1 ]

Matriks refleksi terhadap sumbu Y:
[ -1 0 ]
[ 0 1 ]

Matriks rotasi 90° berlawanan arah jarum jam:
[ 0 -1 ]
[ 1 0 ]

Karena transformasi dilakukan berurutan, maka matriks total adalah:
(Matriks rotasi) × (Matriks refleksi)

Matriks gabungan:
[ 0 -1 ] [ -1 0 ] = [ 0 -1 ]
[ 1 0 ] [ 0 1 ] [ -1 0 ]

Kalikan matriks gabungan dengan vektor titik:
[ 0 -1 ] [ 2 ] = [ -1 ]
[ -1 0 ] [ 1 ] [ -2 ]

Jadi bayangan akhir titik A adalah A’(−1, −2).


CONTOH 2
(refleksi + rotasi pada segitiga, pakai matriks)

Diketahui segitiga ABC dengan koordinat:
A(1, 2), B(3, 2), C(2, 4)

Segitiga ABC dicerminkan terhadap sumbu X, kemudian dirotasi 90° berlawanan arah jarum jam terhadap titik pusat (0,0).
Tentukan koordinat bayangan A’, B’, dan C’.

Penyelesaian:

Matriks refleksi terhadap sumbu X:
[ 1 0 ]
[ 0 -1 ]

Matriks rotasi 90° berlawanan arah jarum jam:
[ 0 -1 ]
[ 1 0 ]

Matriks gabungan:
[ 0 -1 ] [ 1 0 ] = [ 0 1 ]
[ 1 0 ] [ 0 -1 ] [ 1 0 ]

Sekarang kalikan matriks gabungan dengan masing-masing vektor titik.

Titik A:
[ 0 1 ] [ 1 ] = [ 2 ]
[ 1 0 ] [ 2 ] [ 1 ]

A’(2, 1)

Titik B:
[ 0 1 ] [ 3 ] = [ 2 ]
[ 1 0 ] [ 2 ] [ 3 ]

B’(2, 3)

Titik C:
[ 0 1 ] [ 2 ] = [ 4 ]
[ 1 0 ] [ 4 ] [ 2 ]

C’(4, 2)



KENAPA MATRKS PENTING DALAM TRANSFORMASI?
(Sedikit sok ilmiah, tapi jujur)

Dengan matriks:

  • Transformasi bisa dihitung secara sistematis

  • Banyak titik bisa ditransformasi dengan cara yang sama

  • Komputer dan grafika digital bisa bekerja dengan cepat

Itulah sebabnya konsep ini dipakai di:
grafika komputer, animasi, game, pemetaan digital, hingga simulasi teknik.

Jadi saat kamu mengalikan matriks dengan vektor, sebenarnya kamu sedang melakukan versi mini dari apa yang dilakukan software grafis profesional—bedanya kamu pakai pensil dan otak 😄



Nah, setelah kita mengupas transformasi geometri dari sisi teori—lengkap dengan matriks yang kelihatannya sok galak tapi sebenarnya baik hati—sekarang saatnya turun ke lapangan. Ibarat membatik, tadi kita baru mengenal pola dan alatnya, sekarang kita coba mencanting sendiri: menarik titik, memindahkan bangun, memutar, mencerminkan, dan memperbesar tanpa tumpah-tumpah secara matematis. Jangan khawatir kalau awalnya terasa kaku, itu wajar—bahkan matriks pun butuh pemanasan. Jadi, tarik napas, siapkan pensil, dan mari uji apakah titik-titik ini benar-benar patuh pada perintah matriks atau diam-diam memberontak di latihan soal berikut.


LATIHAN SOAL TRANSFORMASI GEOMETRI (MATRIKS)


A. TRANSLASI
(level paling ramah, titik masih santai)

  1. Titik A(2, 3) ditranslasikan oleh vektor (4, −1).
    Tentukan koordinat bayangan A’.

  2. Titik B(−1, 5) ditranslasikan oleh vektor (−3, 2).
    Tentukan koordinat bayangan B’.

  3. Segitiga ABC dengan koordinat:
    A(1, 1), B(3, 1), C(2, 4)
    ditranslasikan oleh vektor (2, −2).
    Tentukan koordinat bayangan A’, B’, dan C’.


B. REFLEKSI
(mulai ngaca, tapi masih terkendali)

  1. Tentukan bayangan titik D(4, −2) jika dicerminkan terhadap sumbu X.

  2. Tentukan bayangan titik E(−3, 5) jika dicerminkan terhadap sumbu Y.

  3. Tentukan bayangan titik F(2, −1) jika dicerminkan terhadap garis y = x.

  4. Segitiga PQR dengan koordinat:
    P(1, 2), Q(3, 2), R(2, 5)
    dicerminkan terhadap sumbu Y.
    Tentukan koordinat P’, Q’, dan R’.


C. ROTASI
(sudah muter, tapi sudut aman: 90°, 180°, 270°)

  1. Titik G(3, 1) dirotasi 90° berlawanan arah jarum jam terhadap titik pusat (0,0).
    Tentukan koordinat bayangan G’.

  2. Titik H(−2, 4) dirotasi 180° terhadap titik pusat (0,0).
    Tentukan koordinat bayangan H’.

  3. Titik I(1, −3) dirotasi 270° berlawanan arah jarum jam terhadap titik pusat (0,0).
    Tentukan koordinat bayangan I’.

  4. Segitiga ABC dengan koordinat:
    A(2, 1), B(4, 1), C(3, 3)
    dirotasi 90° berlawanan arah jarum jam terhadap titik pusat (0,0).
    Tentukan koordinat A’, B’, dan C’.


D. DILATASI
(zoom in, zoom out resmi)

  1. Titik J(2, −1) didilatasi dengan faktor skala k = 2 terhadap titik pusat (0,0).
    Tentukan koordinat bayangan J’.

  2. Titik K(−3, 4) didilatasi dengan faktor skala k = 1/2 terhadap titik pusat (0,0).
    Tentukan koordinat bayangan K’.

  3. Segitiga DEF dengan koordinat:
    D(1, 1), E(3, 1), F(2, 4)
    didilatasi dengan faktor skala k = −2 terhadap titik pusat (0,0).
    Tentukan koordinat bayangan D’, E’, dan F’.


E. BONUS CAMPURAN (tantangan nih, biar nambah pede)

  1. Titik M(1, 2) ditranslasikan oleh vektor (2, −1), kemudian dicerminkan terhadap sumbu X.
    Tentukan koordinat bayangan akhirnya.

  2. Titik N(−2, 3) ditranslasikan oleh vektor (4, −1), kemudian dirotasi 90° berlawanan arah jarum jam terhadap titik pusat (0,0).
    Tentukan koordinat bayangan akhirnya.

  3. Titik O(1, −2) dicerminkan terhadap sumbu Y, kemudian didilatasi dengan faktor skala k = 2 terhadap titik pusat (0,0).
    Tentukan koordinat bayangan akhirnya.

  4. Segitiga ABC dengan koordinat:
    A(1, 1), B(3, 1), C(2, 4)
    dicerminkan terhadap garis y = x, kemudian dirotasi 180° terhadap titik pusat (0,0).
    Tentukan koordinat bayangan A’, B’, dan C’.

  5. Titik P(4, −1) dirotasi 270° berlawanan arah jarum jam terhadap titik pusat (0,0), kemudian ditranslasikan oleh vektor (−2, 3).
    Tentukan koordinat bayangan akhirnya.



PENUTUP KECIL TAPI BERMAKNA

Transformasi geometri dan matriks itu seperti pasangan kerja: yang satu menentukan jenis gerakan, yang satu lagi memastikan perhitungannya rapi dan konsisten. Jadi kalau nanti kamu melihat titik berpindah, berputar, atau membesar lewat matriks, jangan kaget—itu bukan sihir, cuma matematika yang lagi kerja serius tapi tenang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar