🏭 A Lesson from the Workshop
![]() |
| ekspresinya biasa aja dong John |
![]() |
| ekspresinya biasa aja dong John |
One Tuesday afternoon, John (Ahmad Karjono) met Lisha (WilujEng lishAwati) in front of her house after school.
(Suatu sore di hari Selasa, John bertemu Lisha di depan rumah sepulang sekolah.)
“Lisha, let’s hike Mount Prau this weekend,” John said with a big smile.
(“Lisha, ayo mendaki Gunung Prau akhir pekan ini,” kata John dengan senyum lebar.)
Lisha looked surprised but excited. “This weekend? That sounds fun. Which route will we take?”
(Lisha tampak terkejut tapi senang. “Akhir pekan ini? Kedengarannya seru. Kita lewat jalur mana?”)
“We will hike via Dwarawati Basecamp,” John replied confidently.
(“Kita akan mendaki lewat Basecamp Dwarawati,” jawab John dengan yakin.)
pov: Lisha is hiking with her friends
Sebuah bus kota melaju pelan memasuki bundaran dekat alun-alun Purwokerto.
Di tengah bundaran berdiri patung kota dengan air mancur yang menyembur tenang, seolah sudah terbiasa melihat kendaraan berputar rapi mengelilinginya.
“Putarannya satu lagi ya,” kata sopir sambil memutar setir.
Bus itu tidak pindah kota, tidak ganti rute, dan tidak mendadak jadi angkot. Ia hanya berputar mengelilingi pusat bundaran dengan sudut tertentu. Arah berubah, posisi berubah, tapi bentuk bus tetap sama, ya iyalah masa berubah jadi warung kopi.
Kalau bus itu bisa bicara, mungkin ia akan berkata, “Aku tidak ke mana-mana, aku cuma rotasi.”
Lisha sat quietly in her room one afternoon, looking at old photos on her phone.
(Lisha duduk dengan tenang di kamarnya suatu sore, melihat foto-foto lama di ponselnya.)
Each photo reminded her of moments she had experienced — her first day at school, a family trip, and a tiring but happy hike with her cousin.
(Setiap foto mengingatkannya pada momen-momen yang pernah ia alami — hari pertama sekolah, liburan keluarga, dan pendakian yang melelahkan tapi menyenangkan bersama sepupunya.)
She realized that memories become more meaningful when we can tell them clearly to others.
(Ia menyadari bahwa kenangan menjadi lebih bermakna ketika kita bisa menceritakannya dengan jelas kepada orang lain.)
Di sebuah papan catur, seekor kuda datang menghadap raja catur dengan wajah penuh protes.
“Yang Mulia,” kata kuda sambil menghentakkan tapaknya, “saya merasa dipindahkan seenaknya.”
Raja mengangkat alis. “Dipindahkan bagaimana maksudmu?”
“Kemarin saya di petak (7, 1),” kata kuda serius, “tiba-tiba hari ini saya ada di (6, 3). Tanpa izin. Tanpa fasilitas mobil dinas. Tanpa pesangon.”