Kamis, 19 September 2019

Berkawan Baru di Gunung Prau


Saya bukan pendaki gunung. Apalagi pecinta alam. Saya jauh dari itu, hanya kebetulan salah satu hobiku mendaki gunung dan jalan-jalan berkelana ke alam bebas. Tapi itu tidak lantas membuatku menjadi seorang pendaki gunung, apalagi pecinta alam. 


 Dan beberapa waktu lalu saya kembali berkesempatan untuk mendaki gunung, setelah sekian masa vakum dari aktivitas tersebut. Kali ini saya berkelana ke gunung Prau, yang terletak di dataran tinggi Dieng, Jawa Tengah. Ini pendakianku yang kedua ke gunung Prau. Dan kali ini saya ditemani oleh beberapa teman saya dan beberapa teman dari teman saya. Mereka adalah
Fauzan, Faozan, Hani, Hana, Rizki, Andri, Tarso, Roif, Unggul dan Ipung.




Sebagian dari kami berangkat dari karangkobar sekitar pukul setengah tiga sore, dan berencana bertemu sebagian yang lain di desa Batur. Sebertemunya kami di Batur adzan Ashar berkumandang, kami pun menyempatkan diri mendirikan sholat Ashar di Masjid yang kami jumpa di sana. Selesai sholat kami melanjutkan perjalanan menuju basecamp pendakian gunung Prau via Dieng.


Di basecamp pendakian gunung Prau kami disambut oleh para petugas basecamp tuk melakukan pemeriksaan kelengkapan pendakian dan membayar simaksi. Beristirahat secukupnya dan kamipun memulai pendakian sekitar pukul lima sore.


Pos 1 kami singgahi selepas maghrib. Lama memang, karena kami berjalan pelan. Kami tidak terburu-buru untuk mencapai puncak, karena sebagian dari kami ada yang baru pertama kali mendaki gunung. Sadar diri adalah opsi terbaik bagi  kami untuk tidak tergesa-gesa yang dapat berujung celaka.




Di tengah perjalanan kami bersua dengan rombongan pendaki dari Jogja. Mereka berenam perempuan tangguh mendaki lebih awal dari kami, namun perjalanan mereka sedikit terhambat karena salah satu anggota mereka mengalami kelelahan. Dan serta merta Faozan yang baik hati, tidak sombong, dan suka membantu dengan cekatan memberikan pertolongan pada teman yang membutuhkan.

Dan kemudian kamipun mendaki bersama. Mencapai puncak sekitar pukul Sembilan malam, kami bersegera mencari tempat yang strategis untuk mendirikan tenda. Puncak gunung Prau yang begitu luas memberi keleluasaan bagi kami untuk menemukan tempat membangun tenda yang kami suka. Dan kami memilih mendirikan tenda tak jauh dari bukit teletubbies. Tempat ini kami pilih karena tak terlalu banyak pendaki yang mendirikan tenda di tempat tersebut. Sehingga kami dapat beristirahat dengan nyenyak untuk menikmati sunrise bukit teletubbies di pagi harinya.

Tenda berdiri, kompor menyala, kamipun menghangatkan diri di dekat kompor bersanding secangkir kopi, menikmati makan malam berpemandangankan bulan dan bintang yang bertaburan. Maha besar Allah yang telah menaburkannya. Sungguh, suasana yang tidak akan bisa didapatkan ditempat lain. Hanya ada di gunung, bersama teman.

Habis gelap terbitlah sang fajar. Tak bersia masa kami sambut sang mentari dengan segala perlengkapan dokumentasi. Takjub, itu yang terasa. Memandang hamparan bukit berlapis sabana berujung horizon berwarna jingga.



Gunung Prau menyimpan beragam pesona. Terdapat beberapa puncak dengan puncak Prau yang tertinggi dan puncak Patak Banteng yang paling ramai, destinasi kami selanjutnya. Kami tinggalkan kedamaian tenda tuk menuju kesana bersama.



Beragam warna tenda kami jumpa di puncak Patak Banteng, tidak begitu ramai, karena ini bukan akhir pekan. Pemandangan indah yang kami cari terhampar luas di depan kami. Matahari pagi, lautan awan, sepasang gunung kembar Sindoro-Sumbing begitu gagah saling berdamping. Tak henti kami bersyukur, mengagungkan nama-Nya. Sungguh, suasana yang tidak akan bisa didapatkan ditempat lain. Hanya ada di gunung, bersama teman.



Belum puas rasanya memandang pemandangan yang terbentang, namun perut ini meronta untuk segera dipuaskan, kami pun kembali ke tenda. Dimasaklah berbagai macam perbekalan. Nasi goreng sosis tempe bacem dan ayam goreng menu pagi ini. Makan besar pun dimulai.




Usai makan bongkar tenda kemas barang tiada yang tertinggal beranjak pulang. Berat hati sih, berasa ingin tinggal lebih lama, tapi kuota perjalanan kami hanyalah hingga hari ini, pulanglah kami. Musim kemarau membuat perjalanan kami bercengkerama dengan debu, yang penting seru.




Tiba di basecamp kami melepas lelah, entah siapa yang memasangnya. Periksa sampah, dan kembali melepas lelah, ternyata kami sendiri yang memasangnya. Membersihkan diri lalu berbenah. Dengan kawan dari jogja kami berpisah. Kembali ke kehidupan masing-masing yang indah.



Sampai jumpa pada perjalanan berikutnya. Dan inilah videonya :





2 komentar: